Di jalan penuh asap, suara klakson bertarung,
Macet di siang hari, mimpi pun jadi murung.
Gedung-gedung tinggi menantang langit kelabu,
Tapi di bawahnya, manusia sibuk tipu-menipu.
Malam tiba, lampu kota seperti luka,
Bukan bintang yang terang, tapi geng menabur duka.
Lorong gelap jadi arena pertarungan,
Jakarta berbisik, tapi siapa yang mendengarkan?
Suara sirene jadi lagu pengantar tidur,
Keadilan tenggelam dalam asap dan debu yang kabur.
Mereka yang berkuasa bermain tanpa nama,
Kota ini jadi panggung tanpa drama.
Ini Jakarta, kota yang tak pernah tidur,
Mimpi digadaikan untuk mereka yang licik dan akur.
Penuh rahasia, penuh luka, penuh drama,
Seperti Gotham tanpa Batman yang bisa jaga.
Mafia di sudut, senyum di balik ancaman,
Kantor gelap berbisik tentang uang dan jabatan.
Di gang sempit, suara langkah jadi misteri,
Anak kecil tumbuh besar tanpa tahu arti mimpi.
Jalan raya jadi arena balap liar,
Keadilan diperdagangkan, siapa yang bayar?
Yang kaya makin tinggi, yang miskin makin hancur,
Jakarta tenggelam dalam ambisi yang kabur.
Ada hati yang keras, ada jiwa yang patah,
Ada mimpi kecil terkubur dalam tanah.
Di kota ini, semua pakai topeng wajah,
Karena yang jujur hanya akan terhempas.
Ini Jakarta, kota yang tak pernah tidur,
Mimpi digadaikan untuk mereka yang licik dan akur.
Penuh rahasia, penuh luka, penuh drama,
Seperti Gotham tanpa Batman yang bisa jaga.
Jakarta, kau adalah teka-teki tak terpecahkan,
Di tengah bisingmu, jiwa kami perlahan dipatahkan.
Tapi walau gelap, kami tetap bertahan,
Karena di dalam resah, masih ada harapan.